p2km arjasariKAB. BANDUNG – Hari pertama kegiatan program Pusat Pelatihan Kewirausahaan Masyarakat (26/02/2009), para peserta mereka dapat berbagi pengalaman dan wawasan di dalam bidang menjahit meskipun untuk itu mereka perlu menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat pelatihan. Dengan semangat untuk berubah, mereka dengan seksama mengikuti kegiatan belajar menjahit. Jika dilihat dari jumlah peserta yang begitu banyak, maka dapat dikatakan program ini merupakan hal yang cukup diminati oleh masyarakat setempat.

Walaupun di hari kedua, instruktur pelatih agak terlambat, namun peserta pelatihan tetap dengan semangat dating dari pagi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran menjahit.  Materi yang mereka terima pada hari pertama dicoba untuk cerna dan dipahami dengan mempraktekan teori, mengukur pola dasar celana.

Jika dilihat dari jumlah peserta, ada hal yang perlu diperhatikan. Di sana tidak adanya keseimbangan antara peralatan pelatihan menjahit dengan jumlah pserta, akibatnya  instruktur kesulitan membagi grup-grup peserta. Karena jika peserta itu dijadikan banyak grup maka jumlah mesin tidak cukup, namun apabila peserta dijadikan sedikit grup untuk peserta hal itu tidak akan efektif dalam mempraktekan teori yang diterima.  Namun sedikit demi sedikit dapat diatasi.

Di hari ketiga, masih dengan serba keterbatasan, baik dari segi waktu ataupun peralatan, kami tetap berangkat dengan senang hati untuk mengisi materi.  Seperti biasa kami datang terlambat karena jarak yang begitu jauh dari temapat kami tinggal dengan tempat pelatihan.  Tidak ada hal yang istimewa dari perjalanan kami kecuali kami mengalami insiden kecil dimana kami tidak bisa mengendalikan  motor yang kami tunggangi dan akibatnya kami jatuh.  Hal itu disebabkan medan jalan yang cukup terjal dan licin apalagi cuaca yang terus diguyur hujan.

Masih tetap sama keadaannya di hari keempat. Hanya jika dilihat perkembangan peserta sudah mulai Nampak ada perubahan, dimana yang tadinya tidak tahu dan tidak mengerti teknik menjahit khususnya membuat celana akhirnya mereka sudah mulai mengerti.

Pada hari kelima materi difokuskan pada motivasi peserta untuk mengubah hidupnya menjadi lebih produktif.  Adapun  materinya langsung diisi oleh direktur Mitra Pemberdayaan Indonesia.  Jika dilihat dari raut  wajah peserta yang menerima materi, mereka cukup kaget dengan materi yang disampaikan kenapa tidak , karena materi itu merupakan hal yang baru bagi mereka pada hal sebenarnya sedah ada pada diri mereka sendiri, atau mungkin  mereka termotivasi setelah melihat, menyimak, dan meresapi materi yang disampaikan.

Akhirnya, setelah mengikuti kegiatan motivasi praktek pelatihan menjahit kembali dilanjutkan, dan nampak lebih semangat dari hari sebelumnya.

Hari terakhir, alhamdulillah pada hari keenam untuk tahap pertama pelajaran menjahit celana sudah membuahkan hasil, dimana para peserta pada umumnya sudah dapat memahami dan mempraktekan hasil dari materi yang disampaikan. Mereka sudah dapat menyelesaikan konstruksi celana secara keseluruhan, baik itu dari tahap mengukur, mempola, sampai pada menjahit secara keseluruhan.

Adapun hal yang belum sempurna adalah tingkat kerapihan, akan tetapi tingkat kerapihan dapat ditindaklanjuti dengan terus menerus belajar menjahit. Oleh karena itu untuk memudahkan dan mempercepat keterampilan mereka dalam menjahit kami mencoba untuk meproduksi celana anak secara sederhana.***